Hari Ini, Qori Remaja Putra Kalteng Tampil di Final

Padang (Humas) Wahyu Andi Saputra, peserta cabang tilawah remaja putra asal Provinsi Kalimantan Tengah dijadwalkan tampil di babak final Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, Kamis (19/11/2020) siang.

Qari kelahiran Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat ini akan bersaing dengan peserta asal Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Barat.

Berdasarkan jurnal hasil penilaian lomba MTQ Nasional XXVIII tahun 2020 yang ditampilkan di laman webiste https://musabaqah.id, di babak penyisihan, qari remaja putra utusan Bumi Tambun Bungai itu sukses meraih nilai 92,69 dengan rincian nilai tajwid  sebanyak 28,53, nilai fasohah atau kefasihan membaca 28.83, nilai lagu 23.00 dan nilai suara 12.33.

“Selisih nilai peserta kita dengan dua peserta final lainnya tidak begitu banyak. Insyaallah tetap optimis peserta kita bisa juara I, mohon doa seluruh masyarakat Kalteng,” ucap Sekretaris Umum LPTQ Kalteng, HM Yusi Abdhian.

Diungkapkan seluruh kafilah Kalteng di Padang terus memberikan motivasi kepada Wahyu untuk tampil maksimal. Karena itu, sejak diumumkan masuk final pola makan dan pola istirahatnya betul-betul diperhatikan agar staminanya tetap prima.

“Kita doakan peserta kita bisa mendapatkan maqra (daftar ayat yang akan dibaca) yang mudah, sehingga bisa tampil maksimal baik dari sisi tajwid, fasohah, lagu ataupun suaranya. Sebab di babak final, pengambilan maqro itu 10 menit sebelum tampil,” ucap Kepala Kemenag Barito Utara ini.

Ini berbeda jauh dengan pengambilan maqro di babak penyisihan yang dilakukan sekitar 16 jam sebelum tampil sehingga peserta bisa mempersiapkan diri secara matang. Karena itu, banyak kemungkinan bisa terjadi di babak final.

“Ya mohon doakan terus diberi maqra yang mudah, peserta kita sehat dan tidak gerogi sehingga lancar saat tampil dan meraih hasil yang maksimal, sukses menjadi juara,” ucapnya.

Kyai yang beberapa kali menjadi dewan hakim MTQ Nasional itu menjelaskan, ada beberapa indikator penilaian di cabang tilawah antara lain adalah tajwid. Untuk mendapatkan nilai maksimal peserta harus mampu membunyikan huruf-huruf sesuai hukum-hukum yang ada atau ahkamul huruf, kemudian sifatul huruf atau sifat-sifat huruf dan makharijul huruf atau tempat keluarnya huruf atau pelafalan huruf.

“Kalau di indikator fasohah atau kefasihan bacaan item yang dinilai meliputi waqaf itida atau tempat berhenti dan mengulang kembali bacaan, mura’atul huruf dan mura’atul kalimah atau tertinggalnya kata-kata ataupun menambah huruf. Juga mura’atul harakat atau mengubah baris juga jadi peniliaan di bidang fasohah,” ucapnya.

Sementara dari segi suara, lanjut HM Yusi, tinggi rendahnya suara, sangat menentukan. Termasuk juga kenyaringan, kebeningan, kebersihan dan kehalusan suara peserta.

“Untuk lagu, ada sekitar tujuh jenis lagu yang biasa digunakan. Nah peserta harus bisa membawakan lagu dengan baik dan benar. Biasanya di cabang tilawah menggunakan lagu bayati dengan tiga tangga yaitu qarar, kemudian jawa’ dan jawabul jawab,” ucapnya.