Palangka Raya (Humas) Ketua Harian Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Kalimantan Tengah, Prof. DR. KH. Khairil Anwar, M.Ag mengungkapkan, indeks literasi Alquran masyarakat Kalteng cenderung rendah. Karena itu, ia mengajak LPTQ kabupaten/kota se Kalteng untuk membuat program peningkatan literasi Alquran yang dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.
Hal itu diungkapkan Prof Khairil saat memaparkan evaluasi dan program kerja LPTQ Kalteng pada kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) LPTQ se Kalteng di Hotel Luwansa Kota Palangka Raya, Sabtu (10/8/2024) siang.

“Hasil survey Kementerian Agama bersama BRIN pada Juli 2023, Kalteng termasuk provinsi yang literasi Alqurannya masih cenderung rendah, sama seperti Provinsi Kepulauan Riau, NTB, Sulawesi Barat serta beberapa provinsi lain. Karena itu, LPTQ harus mengoptimalkan peran dalam membimbing masyarakat di daerah masing-masing agar kemampuan baca dan tulis Alquran terus meningkat,” ucapnya.
Dikatakan, untuk memompa semangat pengurus LPTQ se Kalteng dalam meningkatan literasi Alquran masyarakat, LPTQ Provinsi Kalteng sengaja mengangkat tema Rakerda tahun 2024 yaitu Peningkatan Literasi Alquran dan Al-Hadits untuk Mewujudkan Kalteng Berkah, Maju dan Bermartabat.
“Tema itu sengaja diangkat sebagai penyemangat kita semua untuk terus mengoptimalkan peran dalam meningkatan literasi Alquran. Kita berharap Rakerda ini akan ada upaya konkrit dalam membangun kesadaran bersama untuk membumikan ajaran Alquran melalui rajin membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ucap guru Besar IAIN Palangka Raya itu.
Prof Khairil juga mengungkapkan, dalam survei Indeks Literasi Alquran yang dilakukan Kementerian Agama tersebut, warga Kalteng yang menjadi sampel sebanyak 454 orang dengan tingkat kepercayaan survei sekitar 98,7 persen.

Dijelaskan, hasil survei diketahui bahwa masyarakat Kalteng yang memiliki indeks literasi Alquran dengan skor 60,00 ke atas sebanyak 24,67 persen. Ini artinya masih ada 75,33 persen umat Islam di Provinsi Kalimantan Tengah yang membutuhkan pembinaan dalam hal baca tulis Alquran.
“Hasil survei ditemukan fakta bahwa responden cenderung rendah dalam hal kemampuan membaca huruf-huruf hijaiyah berharakat dengan cara disambung, kemudian membaca huruf-huruf hijaiyah bukan dari ayat Alquran yang berharakat dengan cara disambung serta membaca huruf-huruf hijaiyah dari ayat Alquran sesuai makhraj yang berharakat dengan disambung,” ucapnya.
Prof Khairil juga mengungkapkan bahwa responden cenderung rendah dalam hal membaca ayat Alquran sesuai panjang dan pendek harakat, cenderung tersendat-sendat atau tidak lancar dalam membaca Alquran serta belum bisa membaca ayat Alquran sesuai hukum tajwid baik terkait waqof maupun ibtida.
Namun, tegas Prof Khairil, ia berharap agar hasil survei tersebut tidak membuat LPTQ dan masyarakat Kalteng berkecil hati, melainkan menjadi motivasi untuk lebih giat dalam upaya pembinaan dan pengembangan literasi Al-Quran di Bumi Tambun Bungai.

